Blukutuk-Blukutuk
Berhasil.
Aku mempunyai sebuah pengalaman
menarik dan takkan pernah kulupakan ,yang kuubah menjadi sebuah cerita pendek.
Ayolah coba deh baca cerpenku ini!!,cerpenya lucu loh!, dibaca dari awal sampai akhir ya!.
Pagi itu langit sajikan semburat warna indah. Pesona
fajar pun menampakkan dirinya. Sesaat lagi pagi akan menebarkan kesegaran yang
membaur bersama keramaian. Perlahan alam
mulai melepaskan diri dari sebuah jeratan gelap. Aroma ramai mulai menyebar ke setiap celah udara. Udara
segar mulai menjalankan tugasnya menyelimuti alam semesta ini. Pagi pun
menetas.
Saat itu aku bangun
dari tidur nyenyakku berada pada sebuah kasur empuk berseprei indah. Sepasang
mata ini rasanya berat sekali untuk membuka dari sebuah cahaya gelap, seperti
ada perekat yang berada dimataku. Lalu kubuka mataku secara perlahan selesai
kubuka sepasang mataku ini kuminum beberapa seteguk air, kulakukan kewajibanku
sebagai seorang muslim yaitu sholat subuh sebelumnya juga mengambil air wudhu.
Seusai menjalankan
kewajibanku, kulihat di jendela kamarku alangkah cerianya pagi itu bangun tidurku ini yang disambut dengan
kesegaran pagi hari. Pagi ceria, pagi yang berwarna, pagi yang bermakna.
Kicauan burung pun juga ikut menyambut bangun tidurku. Embun juga kulihat
sedang berada di atas beberapa permukaan daun. Alangkah indahnya waktu pagi
itu.
Kubersihkan badanku
yang kotor ini dengan mandi lalu kubantu mengerjakan tugas rumah tangga seorang
perempuan yang paling berjasa bagiku alias ibu.
“Bu, pekerjaan rumah
tangga apa yang bisa kubantu?”, tanyaku.
“Ini kamu bantu ibu
dulu saja memasak!”, jawabnya.
“O..setelah itu ada
pekerjaan lain yang bisa kubantu?” tanyaku.
“Ada, tolong kamu
menyapu bagian dalam rumah ini sekaligus luar!”ujarnya
Tak lama kemudian, setelah aku menyapu
bagian dalam dan luar rumah, saudara dan teman dekatku yaitu Kak Alif dan Laila
datang. Kak Alif itulah namanya, ia sangat baik sekali, rendah hati itu salah
satu sifatnya. Dan adiknya yaitu Laila, umurnya sih beda satu bulan denganku.
Aku temanya TK sekaligus SD. Laila itu kadang baik terkadang juga jahat
denganku. Entah apa yang membuatnya begitu. Aku bingung denganya.Tapi menurutku
Laila itu saudara sekaligus teman yang baik.
Kak Alif dan Laila
mengajakku pergi ke wisata air favoritnya
“Dek
Ninda kamu mau ngak ikut kami renang?”, ujar kak Alif.
Didalam benakku rasa takut pun muncul, entah mengapa
tiba-tiba telapak tanganku dingin dan berkeringat. Mungkin terlalu parahnya
takut karena aku tidak bisa berenang. Aku berfikir sebenarnya ingin sekali aku
ikut. Tapi nanti kalau tidak ikut diejek malahan, jadinya malu deh.
Aku pun memutuskan diri untuk ikut.
“
Iya deh aku ikut kak”, jawabku.
“Bener
nih Nin, kamu mau ikut?”, sahut Laila.
“Iyalah aku mau ikut lai, masak aku
ngak ikut?”, ujarku.
“Oo….kamu mau ikut.”ujar Laila.
Lalu kami pun
berangkat, setelah sampai di tempat renang aku diberi penjelasan oleh
kak Alif, tentang cara berenang yang
sederhana bagi seorang pemula .
“Penjelasanya
gitu aja kak?”, ujarku.
“Iya dek, simple kan?”,
sahut kak Alif.
“Iya”, jawabku.
Penjelasanya memang kuakui lumayan gampang
tetapi mungkin dalam bidang prateknya lebih susah. Aku sih berharap bisa
berenang sesuai apa yang aku inginkan.
Dari kejauhan tampak
air kolam berwarna biru yang mengundang hasrat untuk terpesona kepadanya karena
kejernihanya. Langsung aku,kak Alif dan
Laila pergi ke kolam renang tapi masalahnya aku lupa tidak memakai ban
pelampung. Lalu aku mencoba renang tanpa ban pelampung. Kak Alif menyuruhku berpegangan di tepi kolam renang.
“Sini
dek, aku tarik tanganmu nanti kalau udah di tengah kolam kulepas ya!”, ujar Kak
Alif.
“Iya
kak,tapi pelan-pelan”, jawabku.
Tanganku ditarik sampai di tengah kolam
lalu dilepaskan secara perlahan.
Saat
dilepaskan aku dengan percaya dirinya mencoba renang memang awalnya bisa tapi lama
kelamaan aku tenggelam, mataku kemasukan air dan berubah warna yang tadinya
berwarna
putih menjadi putih kemerahan, hidung
juga kemasukan air, posisi tubuh pun berubah tadinya kaki di bawah dan kepala
diatas berubah menjadi kaki diatas dan kepala dibawah.
Saat
posisi tubuhku seperti itu, langsung kak Alif dan Laila menolongku sambil
berteriak-teriak karena mungkin terlalu paniknya. Kak Alif dan Laila langsung
menarikku. Saat aku ditolong keadaanku setengah sadar .Kak Alif dan Laila berteriak-teriak meminta tolong,
“Aduh
dek bangun-bangun, dek bangun-bangun!”, ujar kak Alif dengan panik.
“Nin,
bangun bangun”, sahut Laila.
Aku pun tersadar, hidungku sakit
kemasukan air, mungkin air yang masuk
kehidungku
lumayan banyak.
Setelah
beberapa menit,aku mencoba lagi tanpa menyerah walaupun rasa takut setelah
tenggelam itu hampir menghalangiku untuk mencoba renang. Awalnya aku dilarang kak Alif dan Laila.
“Bener
nih Nin, kamu mau mencoba?”, ujar kak Alif.
“Ya
bener kak!”, jawabku.
“Jangan
keras kepala kamu Nin!”, sahut Laila.
“Udah jangan
khawatir Laila”, jawabku.
Selain aku dilarang Kak Alif dan Laila
aku juga berfikir nanti kalau aku renang pasti kalau tenggelam lagi dilihat dan ditertawakan
orang-orang disekelilingku.
Tapi
rasa takut harus ku hilangkan. Langsung aku mencoba renang. Saat
ditengah-tengah kolam renang, aku tiba-tiba tenggelam lagi. Padahal kak Alif
dan Laila sudah memberikan semangat kepadaku. Aduh tenggelam yang kedua kalinya.
Untungnya aku bisa menyelamatkan diriku sendiri.
Belum
menyerah setelah kedua kalinya tenggelam, aku mencoba seluncur air. Dan
ternyata tenggelam lagi. Mataku sampai memerah. Putus asa memang ku rasakan.
Dibenakku hanya ada empat kata yakni ”pasti tidak bisa berenang.” Mungkin
mata,telinga dan hidung bila mereka bisa berbicara mungkin mereka akan mengeluh
karena kemasukan air.
Terakhir
aku mencoba renang dengan sungguh-sungguh dan rasa optimis yang tinggi,
akhirnya aku pun bisa. Walaupun saat renang aku sering menabrak orang. Badanku
tak tentu arah karena sulit sekali mengelok- elokkan tubuh di dalam air.
Akhirnya
aku bisa berenang walaupun setelah berenang aku terkena flu, hidungku berwarna
merah, mataku merah dan badanku serasa
masuk angin. Tubuhku ini serasa
berteriak kecapekan. Aku ditertawakan
oleh orang-orang yang melihat ku tenggelam.
Selain itu perutku ini rasanya sedang
bernyanyi. Aku, kak Alif dan Laila langsung pergi membeli makanan lalu kami
makan bersama.
Lalu
kami pulang pada waktu sore. Setelah dirumah aku berfikir memang kerja keras
pasti membuahkan keberhasilan. Aku pun menceritakan kejadian tenggelam tadi
kepada ayah, ibu dan adikku. Ditertawakan sudah pasti, tapi ada perasaan bangga
dengan diriku karena akhirnya aku bisa berenang.
Malam masih menyajikan
aroma kegembiraan. Disekitar rumah sederhanaku ini.
Serasa bulan memandangiku dan tersenyum
kepadaku dari balik awan.
Cerpenku
diatas menjelaskan bahwa aku tenggelam tiga kali banyaknya, kan suara tenggelam
biasanya blukutuk-blukutuk, lalu dengan kegigihanku dan sifat pantang menyerah
aku bisa berenang jadinya berhasil. Itulah kata ulang yang menginspirasiku
membuat judul
Blukutuk-Blukutuk Berhasil. Keren kan
judulnya.
Perkenalkan aku…
Desy Yuninda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar