Rabu, 28 Agustus 2013

Pengalaman Menarik



Blukutuk-Blukutuk Berhasil.

            Aku mempunyai sebuah pengalaman menarik dan takkan pernah kulupakan ,yang kuubah menjadi sebuah cerita pendek. Ayolah coba deh baca cerpenku ini!!,cerpenya lucu loh!, dibaca  dari awal sampai akhir ya!.
Pagi itu  langit sajikan semburat warna indah. Pesona fajar pun menampakkan dirinya. Sesaat lagi pagi akan menebarkan kesegaran yang membaur bersama keramaian. Perlahan alam  mulai melepaskan diri dari sebuah jeratan gelap. Aroma ramai  mulai menyebar ke setiap celah udara. Udara segar mulai menjalankan tugasnya menyelimuti alam semesta ini. Pagi pun menetas.                                                                                                                                
Saat itu aku bangun dari tidur nyenyakku berada pada sebuah kasur empuk berseprei indah. Sepasang mata ini rasanya berat sekali untuk membuka dari sebuah cahaya gelap, seperti ada perekat yang berada dimataku. Lalu kubuka mataku secara perlahan selesai kubuka sepasang mataku ini kuminum beberapa seteguk air, kulakukan kewajibanku sebagai seorang muslim yaitu sholat subuh sebelumnya juga mengambil air wudhu.
Seusai menjalankan kewajibanku, kulihat di jendela kamarku alangkah cerianya pagi itu  bangun tidurku ini yang disambut dengan kesegaran pagi hari. Pagi ceria, pagi yang berwarna, pagi yang bermakna. Kicauan burung pun juga ikut menyambut bangun tidurku. Embun juga kulihat sedang berada di atas beberapa permukaan daun. Alangkah indahnya waktu pagi itu.
Kubersihkan badanku yang kotor ini dengan mandi lalu kubantu mengerjakan tugas rumah tangga seorang perempuan yang paling berjasa bagiku alias ibu.
“Bu, pekerjaan rumah tangga apa yang bisa kubantu?”, tanyaku.
“Ini kamu bantu ibu dulu saja memasak!”, jawabnya.
“O..setelah itu ada pekerjaan lain yang bisa kubantu?” tanyaku.
“Ada, tolong kamu menyapu bagian dalam rumah ini sekaligus luar!”ujarnya
Tak lama kemudian, setelah aku menyapu bagian dalam dan luar rumah, saudara dan teman dekatku yaitu Kak Alif dan Laila datang. Kak Alif itulah namanya, ia sangat baik sekali, rendah hati itu salah satu sifatnya. Dan adiknya yaitu Laila, umurnya sih beda satu bulan denganku. Aku temanya TK sekaligus SD. Laila itu kadang baik terkadang juga jahat denganku. Entah apa yang membuatnya begitu. Aku bingung denganya.Tapi menurutku Laila itu saudara sekaligus teman yang baik.
Kak Alif dan Laila mengajakku pergi ke wisata air favoritnya
            “Dek Ninda  kamu  mau ngak ikut kami renang?”, ujar kak Alif.
Didalam benakku  rasa takut pun muncul, entah mengapa tiba-tiba telapak tanganku dingin dan berkeringat. Mungkin terlalu parahnya takut karena aku tidak bisa berenang. Aku berfikir sebenarnya ingin sekali aku ikut. Tapi nanti kalau tidak ikut diejek malahan, jadinya malu deh.
Aku pun memutuskan diri untuk ikut.
            “ Iya deh aku ikut kak”, jawabku.
            “Bener nih Nin, kamu mau ikut?”, sahut Laila.
            “Iyalah aku mau ikut lai, masak aku ngak ikut?”, ujarku.
“Oo….kamu  mau ikut.”ujar Laila.
Lalu kami pun berangkat, setelah sampai di tempat renang aku diberi penjelasan oleh
kak Alif, tentang cara berenang yang sederhana bagi seorang pemula .
            “Penjelasanya gitu aja kak?”, ujarku.
“Iya dek, simple kan?”, sahut kak Alif.
“Iya”, jawabku.
Penjelasanya memang kuakui lumayan gampang tetapi mungkin dalam bidang prateknya lebih susah. Aku sih berharap bisa berenang sesuai apa yang aku inginkan.  
Dari kejauhan tampak air kolam berwarna biru yang mengundang hasrat untuk terpesona kepadanya karena kejernihanya. Langsung aku,kak Alif  dan Laila pergi ke kolam renang tapi masalahnya aku lupa tidak memakai ban pelampung. Lalu aku mencoba renang tanpa ban pelampung. Kak Alif  menyuruhku  berpegangan di tepi kolam renang.
            “Sini dek, aku tarik tanganmu nanti kalau udah di tengah kolam kulepas ya!”, ujar Kak Alif.
            “Iya kak,tapi pelan-pelan”, jawabku.
Tanganku ditarik sampai di tengah kolam lalu dilepaskan secara perlahan.
            Saat dilepaskan aku dengan percaya dirinya mencoba renang memang awalnya bisa tapi lama kelamaan aku tenggelam, mataku kemasukan air dan berubah warna yang tadinya berwarna
putih menjadi putih kemerahan, hidung juga kemasukan air, posisi tubuh pun berubah tadinya kaki di bawah dan kepala diatas berubah menjadi kaki diatas dan kepala dibawah.
            Saat posisi tubuhku seperti itu, langsung kak Alif dan Laila menolongku sambil berteriak-teriak karena mungkin terlalu paniknya. Kak Alif dan Laila langsung menarikku. Saat aku ditolong keadaanku setengah sadar .Kak Alif dan Laila  berteriak-teriak meminta tolong,
            “Aduh dek bangun-bangun, dek bangun-bangun!”, ujar kak Alif dengan panik.
            “Nin, bangun bangun”, sahut Laila.
Aku pun tersadar, hidungku sakit kemasukan air,  mungkin air yang masuk kehidungku
lumayan banyak.
            Setelah beberapa menit,aku mencoba lagi tanpa menyerah walaupun rasa takut setelah tenggelam itu hampir menghalangiku untuk mencoba  renang. Awalnya aku dilarang kak Alif   dan Laila.
            “Bener nih Nin, kamu mau mencoba?”, ujar kak Alif.
            “Ya bener kak!”, jawabku.
            “Jangan keras kepala kamu  Nin!”, sahut Laila.
            “Udah  jangan  khawatir Laila”, jawabku.
Selain aku dilarang Kak Alif dan Laila aku juga berfikir nanti kalau aku renang pasti  kalau tenggelam lagi dilihat dan ditertawakan orang-orang disekelilingku.
            Tapi rasa takut harus ku hilangkan. Langsung aku mencoba renang. Saat ditengah-tengah kolam renang, aku tiba-tiba tenggelam lagi. Padahal kak Alif dan Laila sudah memberikan semangat kepadaku. Aduh tenggelam yang kedua kalinya. Untungnya aku bisa menyelamatkan diriku sendiri.
            Belum menyerah setelah kedua kalinya tenggelam, aku mencoba seluncur air. Dan ternyata tenggelam lagi. Mataku sampai memerah. Putus asa memang ku rasakan. Dibenakku hanya ada empat kata yakni ”pasti tidak bisa berenang.” Mungkin mata,telinga dan hidung bila mereka bisa berbicara mungkin mereka akan mengeluh karena kemasukan air.
            Terakhir aku mencoba renang dengan sungguh-sungguh dan rasa optimis yang tinggi, akhirnya aku pun bisa. Walaupun saat renang aku sering menabrak orang. Badanku tak tentu arah karena sulit sekali mengelok- elokkan tubuh di dalam air.
            Akhirnya aku bisa berenang walaupun setelah berenang aku terkena flu, hidungku berwarna merah, mataku  merah dan badanku serasa masuk angin.  Tubuhku ini serasa berteriak kecapekan.  Aku ditertawakan oleh orang-orang yang melihat ku tenggelam.
Selain itu perutku ini rasanya sedang bernyanyi. Aku, kak Alif dan Laila langsung pergi membeli makanan lalu kami makan bersama.
            Lalu kami pulang pada waktu sore. Setelah dirumah aku berfikir memang kerja keras pasti membuahkan keberhasilan. Aku pun menceritakan kejadian tenggelam tadi kepada ayah, ibu dan adikku. Ditertawakan sudah pasti, tapi ada perasaan bangga dengan diriku karena akhirnya aku bisa berenang.
Malam masih menyajikan aroma kegembiraan. Disekitar rumah sederhanaku ini.
Serasa bulan memandangiku dan tersenyum kepadaku dari balik awan.
            Cerpenku diatas menjelaskan bahwa aku tenggelam tiga kali banyaknya, kan suara tenggelam biasanya blukutuk-blukutuk, lalu dengan kegigihanku dan sifat pantang menyerah aku bisa berenang jadinya berhasil. Itulah kata ulang yang menginspirasiku membuat judul
Blukutuk-Blukutuk Berhasil. Keren kan judulnya. 

Perkenalkan aku…
 Desy Yuninda

Tidak ada komentar: