Kabinet Ali Sastroamidjojo I
Kabinet Ali Sastroamidjojo I, sering disebut Kabinet Ali-Wongso atau Kabinet Ali-Wongso-Arifin, memerintah pada periode 30 Juli 1953 - 12 Agustus 1955. masa bakti : 30 Juli 1953-12 Agustus 1955
No
|
Jabatan
|
Nama Menteri
|
1
|
||
2
|
||
3
|
||
4
|
||
5
|
||
6
|
||
7
|
||
8
|
||
9
|
||
Menteri
Muda Perhubungan
|
||
10
|
||
11
|
||
12
|
||
13
|
||
14
|
||
15
|
(a.i.)FL
Tobing
|
|
16
|
||
17
|
Sudibjo
(Urusan Kesejahteraan Umum)
|
|
Mohammad Hanafiah [(Urusan
Agraria)
|
Catatan
1. ^ Iwa
Kusumasumantri mengundurkan diri sebelum selesai masa jabatannya dan posisinya
dibiarkan kosong.
2. ^ Abikusno
Tjokrosujoso mengundurkan diri. Digantikan sementara oleh Rooseno pada 29 September
1953.
3. ^ Rooseno
dibebaskan dari tugas sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada 12 Oktober
1953, dipindahkan secara
tetap sebagai Menteri Perhubungan. Mohammad
Hasan menggantikan posisi Rooseno.
5. ^ Sudibjo
mengundurkan diri. Dirangkap sementara Wongsonegoro sampai akhirnya diisi oleh Siradjuddin
Abbas.
Sebelumnya:
Kabinet Wilopo |
Digantikan oleh:
Kabinet Burhanuddin Harahap |
|
Program Kerja Kabinet Ali Sastroamidjojo 1
Dalam menjalankan roda pemerintahan, Kabinet Ali memiliki program kerja sebagai
berikut :
1. Menjaga Keamanan.
1. Menjaga Keamanan.
Menjaga
keamanan merupakan bagian dari program kerja Kabinet Ali 1.Hal ini karena
Kabinet Ali berani mengambil alih pemerintahan setelah kabinet sebelumnya
runtuh. Adanya tanggungjawab kabinet ini yang kemudian akan dilaporkan terhadap
DPR tentunya akan memuat suatu solusi untuk meredam ketidakstabilan Negara saat
itu. Pada masa kabinet sebelumnya telah terjadi berbagai goncangan keamanan.
Misalnya saja perpecahan yang terjadi di Jawa Tengah dan Jawa Timur,
perselisihan yang terjadi dikalangan militer, Bahkan pembunuhan yang dilakukan
kepolisian terhadap lima petani di dekat Medan (Ricklefs: 1998, 367-368,
369-370). Saat itu Kabinet Ali mengerahkan pasukan untuk meredam pemberontakan
dari kota kota yang penting. Adapun keadaan ini membuat stabilitas yang
dijalankan pemerintahan terganggu, selain itu juga terdapat berbagai
pemberontakan di daerah-daerah.Sehingga pada Kabinet Ali 1 ini, pemerintah
berupaya untuk menjaga keamanan dan memulihkan.
2. Menciptakan Kemakmuran & Kesejahteraan Rakyat.
Adanya
Perang Korea antara Februari 1952- Maret 1952 memberikan dampak malasnya
perekonomian Indonesia.Hal ini karena ekspor karet nasional Indonesia menjadi
turun 71%.Adanya upaya untuk memperbaiki neraca perdagangan pada kabinet
sebelum Kabinet Ali tidak berhasil.Apalagi solusi ekonomi yang dilakukan
pemerintahan sebelumnya justru berdampak memperkeruh ketidakstabilan politik
dan keamanan.(Ricklefs: 1998, 367-368).Pada tahun 1952-1953 terjadi inflasi di
Indonesia. Sehingga nilai tukar rupiah turun menjadi 44,7 % dari nilai resmi
menjadi 24,6 %. Pada masa Kabinet ini persediaan uang meningkat 75%, Hal ini
akhirnya menyebabkan eksportir diluar Pulau Jawa yang terdiri atas orang-orang
Masyumi terkena imbas dan mengalami dampak buruk pada kegiatan ekonominya
(kerugian).(Ricklefs: 1998, 371).Dari adanya situasi ini menyebabkan
penyelundupan semakin meningkat (tidak hanya orang miskin yang terlibat
penyelundupan, tapi juga tentara-tentara).(Ricklefs: 1998, 371).Keadaan ini
semakin menambah kemiskinan bangsa Indonesia.Rakyat saat itu hidup dalam
kelaparan dan jauh dari kesejahteraan.Maka dari itu pada masa Kabinet Ali
program kerjanya juga berupaya untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan.
(Kahin, 2005:212). Adapun wujud dari upaya tersebut dengan
Menekankanpengindonesiasian terhadap perekonomian dan memberi dorongan kepada
pengusaha pribumi.
3. Menyelenggarakan Pemilu.
Dengan
memasuki babak demokrasi liberal, maka sistem Pemerintahan Indonesia menjalani
sistem yang sebelumnya diterapkan oleh Belanda.Dimana imperialism kemudian
mengenalkan Indonesia pada struktur atau susunan pemerintahan yang masuk ke
dalam jenis parlementer.Sebagai kabinet yang memimpin pemerintahan, maka
Kabinet Ali menyanggupi inti dari pemerintahan Indonesia yang bersifat
parlementer tersebut.Dalam hal ini, Kabinet Ali mengupayakan penyelenggaraan
Pemilu.(Turnan, 1995: 221).Pada tanggal 31 Mei 1954 Kabinet Ali membentuk
Panitia Pemilu Pusat yang diketuai oleh Hadikusumo (PNI). Selanjutnya Pada 16
April 1955 Hadikusumo mengumumkan bahwa pemilu akan diadakan pada tanggal 29
September 1955. Hal ini lah kemudian membuat berbagai kampanye yang diadakan
menjadi meningkat.Adapun kampanye diadakan sampai pelosok desa.(Poesponegoro,
Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 526).Adapun pemilu merupakan program
kerja yang utama dalam kabinet ini.(Turnan, 1995: 208).
4. Pembebasan Irian Barat secepatnya.
Kemerdekaan
Indonesia, menuntut kabinet ini untuk tidak menyetujui adanya RIS.Hal ini
karena pemerintahan yang ada saat itu ingin berdaulat dalam menjalankan
kehidupan bernegara. Maka dari itu, pada tanggal Agustus 1954 Kabinet Ali
memuat usul mengenai penghapusan Uni Belanda- Indonesia (sesuatu yang kecil)
dan beberapa penyesuaian atas hasil KMB , namun hal ini tidak mencapai
kemajuan. Adanya masalah pembebasan Irian yang tidak memuat hasil membuat
Kabinet Ali saat itu mengajukan masalah ini ke PBB, dan dalam bulan yang sama
pengaduan tersebut tidak diterima. (Ricklefs: 1998, 371).
5. Melaksanaan politik bebas-aktif
Adanya bipolarisasi dan politik konstelasi dunia membuat
Indonesia tidak ingin terlibat didalamnya.Apalagi Indonesia sendiri merupakan
Negara yang baru merdeka, bahkan dalam menata negaranya, Indonesia masih belum
tentu arah.(Turnan, 1995: 43).Apalagi kemerdekaan Indonesia masih belum diakui
oleh Belanda.Adanya ancaman kedatangan Belanda maupun Jepang bisa kapan saja
menghampiri Indonesia.Maka dari itu pada masa Kabinet Ali ini menetapkan
Indonesia untuk menjalankan Politik Bebas-Aktif.Adapun bebas disini terwujud
dengan sifat tidak memihak Indonesia terhadap pertikaian dunia.Misalnya pada
ketegangan antara Amerika dan RRC saat itu.Sedangkan aktif disini ditujukan
pada perjuangan untuk membebaskan Irian dari Belanda.Indonesia ingin berperan
aktif dalam menyuarakan anspirasinya pada dunia. Hal ini yang kemudian akan
diwujudkan dengan pelaksanaan KAA 1955 yang mengikutsertakan Indonesia dalam
menggalang perdamaian Asia-Afro. Program ini sangat didukung Soekarno.
6. Menyelesaikan Pertikaian
politik
1.
Pada waktu itu keamanan dibeberapa daerah tidak stabil
a) DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat
ð Di Jawa Barat kegiatan Darul Islam semakin memuncak, bahkan aktivitas yang dilakukan meningkat. (Ricklefs: 1998, 369). Selain itu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di (DI/TII) ini disebut berasal dari Jawa Barat dan kemudian menyebar ke daerah lain. Adapun pemimpinnya adalah Kartosuwirjo. (Yulianti, 2007:249)
a) DI/TII Kartosuwirjo di Jawa Barat
ð Di Jawa Barat kegiatan Darul Islam semakin memuncak, bahkan aktivitas yang dilakukan meningkat. (Ricklefs: 1998, 369). Selain itu Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di (DI/TII) ini disebut berasal dari Jawa Barat dan kemudian menyebar ke daerah lain. Adapun pemimpinnya adalah Kartosuwirjo. (Yulianti, 2007:249)
b)
Daud Beureh di Aceh
ð Kaum muslim di Aceh mulai merasakan politik Jakarta hidup dalam keadaan, tidak beriman, dan tidak cakap. Pada tahun 1949 Aceh menjadi Propinsi Republik yang otonom.selanjutnya pada tahun 1950 Aceh digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Daud Beureu’eh, sebagai orang kuat Aceh dan benteng Republik Revolusi menolak untuk menerima pekerjaan di Jakarta dan lebih memilih untuk bermukim di Aceh dan memperhatikan perkembangan-perkembangannya. Adapun hal ini karena adanya isi kabinet terdiri atas tokoh-tokoh Masyumi (Ricklefs: 1998, 369).Pada masa Kabinet Ali. Bahkan Darul Islam berhasil memperluas wilayahnya dengan meliputi Aceh, Jawa Barat , dan Sulawesi. Pada Mei 1953, terdapat bukti bahwa ia menjalin hubungan dengan Kartosuwirjo dari Darul Islam. Daud merasa keberadaan Kabinet Ali bermaksud menangkapi orang-orang Aceh yang terkemuka.(Ricklefs: 1998, 71).Sampai tahun 1959 Daud mundur keatas bukit.Kemudian pada tanggal 19 September 1953 Daud dan PUSA terangan-terangan melakukan pemberontakan terhadap Jakarta.Ini mendapat dukungan orang-orang Aceh yang menjadi pegawai dan tentara.Saat itu Daud menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Darul Islam bukan Pemerintah Pancasila.Ketika Kabinet Ali gerakan ini dianggap sebagai hambatan yang berpengaruh terhadap ketidakstabilan Negara. Apalagi Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintahan Kabinet Ali dan menjadi penguras utama dana. (Ricklefs: 1998, 37).
ð Kaum muslim di Aceh mulai merasakan politik Jakarta hidup dalam keadaan, tidak beriman, dan tidak cakap. Pada tahun 1949 Aceh menjadi Propinsi Republik yang otonom.selanjutnya pada tahun 1950 Aceh digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. Daud Beureu’eh, sebagai orang kuat Aceh dan benteng Republik Revolusi menolak untuk menerima pekerjaan di Jakarta dan lebih memilih untuk bermukim di Aceh dan memperhatikan perkembangan-perkembangannya. Adapun hal ini karena adanya isi kabinet terdiri atas tokoh-tokoh Masyumi (Ricklefs: 1998, 369).Pada masa Kabinet Ali. Bahkan Darul Islam berhasil memperluas wilayahnya dengan meliputi Aceh, Jawa Barat , dan Sulawesi. Pada Mei 1953, terdapat bukti bahwa ia menjalin hubungan dengan Kartosuwirjo dari Darul Islam. Daud merasa keberadaan Kabinet Ali bermaksud menangkapi orang-orang Aceh yang terkemuka.(Ricklefs: 1998, 71).Sampai tahun 1959 Daud mundur keatas bukit.Kemudian pada tanggal 19 September 1953 Daud dan PUSA terangan-terangan melakukan pemberontakan terhadap Jakarta.Ini mendapat dukungan orang-orang Aceh yang menjadi pegawai dan tentara.Saat itu Daud menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Darul Islam bukan Pemerintah Pancasila.Ketika Kabinet Ali gerakan ini dianggap sebagai hambatan yang berpengaruh terhadap ketidakstabilan Negara. Apalagi Hal ini merupakan tantangan bagi pemerintahan Kabinet Ali dan menjadi penguras utama dana. (Ricklefs: 1998, 37).
c) DI/TII Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan
ð Pada Januari 1952 Kahar Muzakar menyatakan Sulawesi Selatan merupakan wilayah dari kepemimpinan Kartosuwirjo. Namun pada akhirnya Kahar Muzakar ini berhasil ditembak oleh Tentara dari Divisi Siliwangi. (Yulianti, 2007:249).
d)
DI/TII di Jawa Tengah
ð Pemberontakan ini dipimpin oleh Amir Fatah dan Mahfud Abdur Rahman.Pada tahun 1954 pemberontakan ini berhasil ditundukan oleh TNI. (Yulianti, 2007:249).
ð Pemberontakan ini dipimpin oleh Amir Fatah dan Mahfud Abdur Rahman.Pada tahun 1954 pemberontakan ini berhasil ditundukan oleh TNI. (Yulianti, 2007:249).
e)
Persoalan dalam negeri dan luar negeri misalnya persiapan pemilihan umum yang
saat itu direncanakan pada pertengahan Mei 1955 mengalami kegagalan.
f)
Konflik dengan TNI-AD dalam persoalan pengangkatan seorang kepala staf .
ðKetegangan yang terjadi dilingkungan TNI-AD sejak peristiwa 17 Oktober 1952 (Pada waktu itu Nasution mendapat skors atau dinonaktifkan selama tiga tahun) kemudian berlanjut.(Ricklefs: 1998, 369).Adapun peristiwa disebabkan Kepala Staf TNI-AD “Bambang Sugeng” mengajukan permohonan.Dalam hal ini keinginan tersebut disetujui oleh kabinet. Tindak lanjut dari hal tersebut ialah pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo oleh Mentri Pertahanan .menurut Panglima TNI-AD hal tersebut sangat tidak menghormati norma-norma yang ada di dalam lingkungan TNI-AD. Kabinet yang ada saat itu dipersalahkan, bahkan dalam Upacara Pelantikan dan Serah Terima Panglima tinggi TNI-AD tidak ada yang hadir.
(Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 526).
ðKetegangan yang terjadi dilingkungan TNI-AD sejak peristiwa 17 Oktober 1952 (Pada waktu itu Nasution mendapat skors atau dinonaktifkan selama tiga tahun) kemudian berlanjut.(Ricklefs: 1998, 369).Adapun peristiwa disebabkan Kepala Staf TNI-AD “Bambang Sugeng” mengajukan permohonan.Dalam hal ini keinginan tersebut disetujui oleh kabinet. Tindak lanjut dari hal tersebut ialah pengangkatan Kolonel Bambang Utoyo oleh Mentri Pertahanan .menurut Panglima TNI-AD hal tersebut sangat tidak menghormati norma-norma yang ada di dalam lingkungan TNI-AD. Kabinet yang ada saat itu dipersalahkan, bahkan dalam Upacara Pelantikan dan Serah Terima Panglima tinggi TNI-AD tidak ada yang hadir.
(Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, 1993: 526).
Selain
dari masalah diatas, hambatan pada kabinet ini juga meliputi masalah
ekonomi.Pada program kerjanya Kabinet Ali menekankan pengindonesiasian terhadap
perekonomian dan memberi dorongan kepada pengusaha pribumi.Namun pada
kenyataannya tidak demikian, karena banyak perusahaan-perusahaan baru yang
berkedok palsu bagi persetujuan antara pendukung pemerintah dan orang-orang
Cina/Perusahaan Ali Baba.Maka dari itu Kabinet ini dikenal juga dengan Kabinet
Ali Baba.Ali Baba artinya seorang pengusaha pribumi yang mewakili pengusaha
Cina yang memiliki perusahaan. Dalam praktiknya duta besar Cina akan menekan
orang-orang Cina untuk bekerja sama dengan pribumi, tapi keadaannya tidak
demikian. Sedangkan pada saat itu Indonesia sedang mengalami krisis ekonomi,
pergolakan ditanah air yang menguras dana semakin membuat kemiskinan (Ricklefs
, 1998:371). Apalagi pada 1955 PSI melakukan pemogokandan untuknya diredam oleh
SOBSI. (Ricklefs , 1998:371).
Kelemahan Kabinet Ali
Sastroamidjojo 1
1. Sangat
Tergantung Dengan Organisasi NU. Menjadikan Saat NU Meninggalkan Kabinet
Sastroamidjojo , Kabinet Ini Menjadi Labil. Dan Juga Sangat Tergantung Dengan
partai masyumi. Menjadiakn Partai ini tidak mandiri.
2. Partai
ini tidak bisa menghadapi masalah yang ia hadapi sehingga partai ini
mengundurkan diri.Contohnya :
a.
Pergolakan yang terjadi di daerah (DI/TII)
b.
Masalah Irian yang tidak selesai
c.
Pemilu yang tidak terlaksana, bahkan skandal
korupsi ini sendiri ada di tubuh PNI
d.
Pergolakan dengan PKI
e.
Masalah dengan TNI seputar pengangkatan staf
3. Kerja
kabinet yang tidak maksimal karena banyaknya masalah
4. Banyak
korupsi yang membuat perekonomian menurun.
Tanggapan
·
Menurut kelompok kami Kabinet Sastroamidjojo 1
merupakan Kabinet yang cukup efektif
dalam rangka untuk mengisi krisis pemerintahan di Indonesia pasca kekosongan
selama 58 hari (sepeninggalan Kabinet Wilopo).
·
Selain itu program yang direncanakan sangatlah
membangun sebagai contoh:
Pada
program keamanan yaitu membuat solusi untuk menjaga kestabilan terutama dalam
hal keamanan. Pada program kemakmuran yaitu Dapat berupaya untuk menciptakan
kemakmuran dan kesejahteraan. (Kahin, 2005:212). Adapun wujud dari upaya
tersebut dengan Menekankan pengindonesiasian terhadap perekonomian dan memberi
dorongan kepada pengusaha pribumi.
·
Dan Suatu kremunduran akibat kurang mandirinya
kabinet NU menarik dukungan dan menterinya dari kabinet sehingga keretakan
dalam kabinetnya inilah yang memaksa Ali harus mengembalikan mandatnya pada
presiden.kabinet ini telah berhasil memberi sumbangan bagi Indonesia , maupun
benua Asia-Afrika Merangkul saudara Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme atau
neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya
·
Sebetulnyya, kabinet Ali Sastroamidjoyo cuup
efektif karena kabinet ini berjalan cukup lama di Indonesia. Sayangnya, karena
ketergantugan kabinet ini pada organisasi NU dan partai Masyumi, kabinet ini
menjadi tidak stabil setelah ditinggal 2
organisasi tersebut. Masalah – masalah yang terus menghadang partai ini juga
mengganggu kabinet ini. Bila kami hidup pada jaman itu, kami akan menunntut
pemerintah unttuk bersikap lebih tegas dan merencanakan segala kemungkinan
yang akan terjadi.
Kesimpulan
Kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah ternyata harus dipertahankan pula dengan lebih susah. Laporan mengenai Kabinet Ali (1953-1955) ini merupakan bagian dari sejarah pemerintahan Indonesia dalam mencoba masa demokrasi. Dari sini kita akan memperoleh sudut pandang tentang sulitnya membangun sebuah pemerintahan dalam suatu Negara. Indonesia ketika itu memiliki berbagai masalah disemua aspek kehidupan. Bahkan warisan demikian mash terasa saat ini. Adapun kisah politik, radikal, den ekonomi adalah masalah besar yang tidak pernah pergi dari kehidupan Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Sejarah pemerintahan Indonesia tidak pernah lepas dari perebutan kekuasaan dan persaingan yang tidak sehat tanpa memperdulikan nasib rakyat dan tanpa menyadari Negara kita “Indonesia” sudah jauh tertinggal dari Negara lain.
Kemerdekaan yang sudah diraih dengan susah payah ternyata harus dipertahankan pula dengan lebih susah. Laporan mengenai Kabinet Ali (1953-1955) ini merupakan bagian dari sejarah pemerintahan Indonesia dalam mencoba masa demokrasi. Dari sini kita akan memperoleh sudut pandang tentang sulitnya membangun sebuah pemerintahan dalam suatu Negara. Indonesia ketika itu memiliki berbagai masalah disemua aspek kehidupan. Bahkan warisan demikian mash terasa saat ini. Adapun kisah politik, radikal, den ekonomi adalah masalah besar yang tidak pernah pergi dari kehidupan Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Sejarah pemerintahan Indonesia tidak pernah lepas dari perebutan kekuasaan dan persaingan yang tidak sehat tanpa memperdulikan nasib rakyat dan tanpa menyadari Negara kita “Indonesia” sudah jauh tertinggal dari Negara lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar